Senyumku mengembang dalam diam. Segalanya
tetap berjalan begitu saja. tanpa ku sadari bahwa cinta mulai menyeretku ke arah
yang munkin saja tak ku inginkan. Saat bertemu, kita tak pernah banyak bicara. Hanya
sesekali menatap dan tersenyum penuh arti. Sungguh aku masih tak percaya
segalanya bisa berjalan secepat dan sekuat ini. Aku terus meyakinkan diriku
sendiri , bahwa ini bukan cinta. Ini hanya ketertarikan sesaat karena aku
merasakan sesuatu yang baru dalam hadirmu. Aku berusaha mempercayai bahwa
perhatianmu, candamu, dan caramu mengungkapkan pikiranmu adalah bukti nyata
pertemanan kita. Ya, sebatas teman, aku tak berhak mengharapkan sesuatu yang
lebih. Aku tak pernah ingin mengingat kenangan sendirian. Aku juga tak ingin
merasakan sakit sendirian. Tapi nyatanya… perasaan ku tumbuh semakin pesat,
bahkan tak lagi terkendalikan. Siapakah yang bisa mengendalikan perasaan?
Siapakah yang bisa menebak perasaan cinta bisa jatuh pada orang yang tepat atau
salah? Aku tidak sepandai dan secerdas itu. Aku hanya manusia biasa yang
merasakan kenyamanan dalam hadirmu. Aku hanya wanita biasa yang takut
kehilangan seseorang yang tak pernah kumiliki. Salahku memang, jika mengartikan
tindakanmu sebagai cinta. Tapi, aku juga tidak salah bukan, jika berharap bahwa
kamu juga punya perasaan yang sama? Kamu sudah jadi sebab tawa dan senyumku.
Aku percaya kamulah kebahagiaan baru yang akan memberi ku sinar paling terang.
Aku percaya kau tak munkin membuatku sedih dan kamu tak akan jadi sebab air
mataku. Aku sangat mempercayainya. Sangat!. Dan, itulah kebodohan yang harus ku
sesali. Kalau kau ingin tahu, aku sudah merancang berbagai mimpi indah yang
ingin ku wujudkan bersama mu. Munkin, suatu saat nanti, jika tuhan izinkan, aku
percaya kita pasti bisa saling membahagiakan. Ini bukan salahmu, juga bukan salahnya. Tapi, tak
munkin matamu terlalu buta dan hatimu terlalu cacat untuk tahu bahwa aku
mencintaimu. Aku harus belajar tak peduli. Aku harus belajar memaafkan. Juga
merelakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar